Subscribe to our Newsletter

Be the first to learn the latest news about SGB!
Join #SGB_Family now!
EMAIL
Secure and Spam free...

Kesuksesan Lien di Asian Games 2018 Akan Mendorong Eksistensi Jujitsu Singapura

September 1, 2018

Sehari setelah memenangkan medali pertama di cabang olahraga jujitsu mewakili Singapura di Asian Games, Constance Lien menyatakan harapannya tentang kesuksesannya. Ia berharap akan lebih meningkatkan eksistensi seni bela diri Jujitsu di Singapura.

Lien menyabet medali perak setelah kalah dari pemain Korea Selatan, Sung Jira 2-4 di kelas under-62kg putri, di Jakarta Convention Center pada Sabtu, 25 Agustus 2018. Dilansir Channel NewsAsia, Lien berkata: “Saya sangat bangga. Saya berharap ini akan meningkatkan reputasi olahraga di Singapura.”

Lien merupakan salah satu Mahasiswa Temasek Polytechnic, pemegang sabuk biru Jujitsu ini juga berharap bahwa kesuksesannya akan mengubah sikap orang-orang terhadap atlet jujitsu. “Banyak perwakilan jujitsu harus menyeimbangkan pelatihan dengan kegiatan belajar, dan harusnya beberapa sekolah harus lebih fleksibel dalam meluangkan waktu atlet-atlet untuk berlatih dan bersaing,” kata Lien.

“Saya merasa bahwa beberapa perenang (nasional) lebih mudah mendapat waktu untuk bersaing atau berlatih, tetapi saya berjuang untuk mendapatkan izin untuk melakukan hal yang sama. Semoga dengan medali ini, itu bisa berubah.”

Lien sudah memasuki semester terakhirnya di Temasek Polytechnic, di mana dia mengambil program diploma jurusan Early Development Childhood and Education. Setelah menyelesaikan studinya pada tahun 2019 ini, Lien bertujuan untuk mengambil satu tahun dari kegiatan akademisnya untuk fokus pada mimpinya untuk menjadi juara dunia.

Dia termotivasi oleh bagaimana dia mempertahankan dirinya sendiri melawan Sung, juara dunia dalam kelas kategori under-62kg. Sung merupakan lawannya dari Korea Selatan, yang memegang sabuk ungu, yang juga satu tingkat di atasnya.

Dalam perjalanan ke final, pemain berusia 19 tahun itu mengalahkan Turkmenistan Krovyakova Violetta dengan poin telak 6-0 di semifinal. Dia juga mengalahkan Battsogt Buyandelgerdari Mongolia, Sangsirichok Onanong dari Thailand dan Julia Simone dari Indonesia. Terlebih, Ini adalah pertama kalinya jujitsu itu ditandingkan di Asian Games.

Mantan Perenang

Ibu Constance Lien adalah mantan perenang nasional Yuen Shuang Ching, dan Lien memulai perjalanan olahraganya sebagai perenang. Saat-saat stagnan ketika Lien berusia 16 tahun, ia diminta untuk beristirahat dari berenang. Setelah menemukan jujitsu, dia jatuh cinta. Tapi Yuen keberatan di awal, khawatir tentang keselamatan putrinya dalam melakukan olahraga tersebut.

“Transisi seperti itu adalah kejutan baginya; berenang dan seni bela diri benar-benar berbeda – satu adalah olahraga kontak dan satu adalah olahraga di mana saya tidak akan mendapatkan pukulan atau memar,” ujar Lien.

“Saya senang mendapat dukungannya sekarang. Dia bisa melihat kecintaanku pada jujitsu dan bagaimana saya bisa menjadi orang yang lebih kuat.” Lanjutnya.

Keep it up, Lien! 

Sumber Foto: The Straits Times

Untuk informasi menarik dan seru lainnya, pastikan kamu selalu membaca majalah digital SGB! Kamu hanya perlu klik di sini.

Avatar
About Tania test

Gracia Purnomo, yang sering dipanggil Grace, lahir di Semarang pada tanggal 8 Agustus 1996. Grace bergabung dengan #SGB_Team sejak Agustus 2018 dan Grace sangat senang menjadi bagian dari Singapore Guidebook. Grace ingin lewat tulisan-tulisan yang Ia buat di artikel website SGB ini menjadi penolong bagi para wisatawan Indonesia yang ke Singapura. #SGB_Family bisa berbincang-bincang dengan Grace lewat Instagram: @graciapurnomo

September 1, 2018

Sehari setelah memenangkan medali pertama di cabang olahraga jujitsu mewakili Singapura di Asian Games, Constance Lien menyatakan harapannya tentang kesuksesannya. Ia berharap akan lebih meningkatkan eksistensi seni bela diri Jujitsu di Singapura.

Lien menyabet medali perak setelah kalah dari pemain Korea Selatan, Sung Jira 2-4 di kelas under-62kg putri, di Jakarta Convention Center pada Sabtu, 25 Agustus 2018. Dilansir Channel NewsAsia, Lien berkata: “Saya sangat bangga. Saya berharap ini akan meningkatkan reputasi olahraga di Singapura.”

Lien merupakan salah satu Mahasiswa Temasek Polytechnic, pemegang sabuk biru Jujitsu ini juga berharap bahwa kesuksesannya akan mengubah sikap orang-orang terhadap atlet jujitsu. “Banyak perwakilan jujitsu harus menyeimbangkan pelatihan dengan kegiatan belajar, dan harusnya beberapa sekolah harus lebih fleksibel dalam meluangkan waktu atlet-atlet untuk berlatih dan bersaing,” kata Lien.

“Saya merasa bahwa beberapa perenang (nasional) lebih mudah mendapat waktu untuk bersaing atau berlatih, tetapi saya berjuang untuk mendapatkan izin untuk melakukan hal yang sama. Semoga dengan medali ini, itu bisa berubah.”

Lien sudah memasuki semester terakhirnya di Temasek Polytechnic, di mana dia mengambil program diploma jurusan Early Development Childhood and Education. Setelah menyelesaikan studinya pada tahun 2019 ini, Lien bertujuan untuk mengambil satu tahun dari kegiatan akademisnya untuk fokus pada mimpinya untuk menjadi juara dunia.

Dia termotivasi oleh bagaimana dia mempertahankan dirinya sendiri melawan Sung, juara dunia dalam kelas kategori under-62kg. Sung merupakan lawannya dari Korea Selatan, yang memegang sabuk ungu, yang juga satu tingkat di atasnya.

Dalam perjalanan ke final, pemain berusia 19 tahun itu mengalahkan Turkmenistan Krovyakova Violetta dengan poin telak 6-0 di semifinal. Dia juga mengalahkan Battsogt Buyandelgerdari Mongolia, Sangsirichok Onanong dari Thailand dan Julia Simone dari Indonesia. Terlebih, Ini adalah pertama kalinya jujitsu itu ditandingkan di Asian Games.

Mantan Perenang

Ibu Constance Lien adalah mantan perenang nasional Yuen Shuang Ching, dan Lien memulai perjalanan olahraganya sebagai perenang. Saat-saat stagnan ketika Lien berusia 16 tahun, ia diminta untuk beristirahat dari berenang. Setelah menemukan jujitsu, dia jatuh cinta. Tapi Yuen keberatan di awal, khawatir tentang keselamatan putrinya dalam melakukan olahraga tersebut.

“Transisi seperti itu adalah kejutan baginya; berenang dan seni bela diri benar-benar berbeda – satu adalah olahraga kontak dan satu adalah olahraga di mana saya tidak akan mendapatkan pukulan atau memar,” ujar Lien.

“Saya senang mendapat dukungannya sekarang. Dia bisa melihat kecintaanku pada jujitsu dan bagaimana saya bisa menjadi orang yang lebih kuat.” Lanjutnya.

Keep it up, Lien! 

Sumber Foto: The Straits Times

Untuk informasi menarik dan seru lainnya, pastikan kamu selalu membaca majalah digital SGB! Kamu hanya perlu klik di sini.

Avatar
About Tania test

Gracia Purnomo, yang sering dipanggil Grace, lahir di Semarang pada tanggal 8 Agustus 1996. Grace bergabung dengan #SGB_Team sejak Agustus 2018 dan Grace sangat senang menjadi bagian dari Singapore Guidebook. Grace ingin lewat tulisan-tulisan yang Ia buat di artikel website SGB ini menjadi penolong bagi para wisatawan Indonesia yang ke Singapura. #SGB_Family bisa berbincang-bincang dengan Grace lewat Instagram: @graciapurnomo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

#SGB_Story

SGB was founded by Tania Gromenko, a Russian lady who started studying the Indonesian language when she was 18. She had a chance to live in Indonesia several times since then - in Jakarta and Bali - and fell in love with Indonesia and its people. In 2016, Tania moved to Singapore and slowly but surely, the SGB concept shaped in her mind.
Read More

Berita Terbaru

Latest Videos

Latest Videos

Some of Our Partners Include

Changi-Airport
Ez-Link
Garuda-Indonesia
Kraft Wich
klook
error: Ooops, copy-paste are not allowed!

Subscribe to our Newsletter

Be the first to learn the latest news about SGB!
Join #SGB_Family now!
EMAIL
Secure and Spam free...