fbpx

Jakarta Ulang PSBB Total, Apa Saja yang Akan Berubah? Cek Ya!

  • September 11, 2020
  • Dibaca 18 kali

Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan jumlah peningkatan kasus Covid-19 tertinggi. Beberapa waktu lalu, angka kasus di Jakarta meningkat tajam sehingga mendorong Gubernur Jakarta, Anies Baswedan untuk kembali memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB. Namun, ketika Jakarta ulang PSBB total, apa saja yang akan berubah? Cek keterangan lebih lengkapnya di bawah ini, ya.

Jakarta Ulang PSBB Total, Warga Diharapkan Stay at Home

Monas, Jakarta (IG:ainiaaam)

Rencana Jakarta ulang PSBB total tersebut akan dilaksanakan kembali mulai hari Senin depan, 15 September 2020. Dilansir dari thejakartapost.com, Anies Baswedan mengatakan bahwa pihaknya tidak ada pilihan lain selain menekan rem darurat dengan kembali menjalankan PSBB di Ibu Kota.

Berlakunya kembali kebijakan PSBB ini berarti tempat kerja non-esensial akan dilarang beroperasi serta memerintahkan para pekerjanya untuk bekerja dari rumah. Selain itu pemerintah juga akan melarang digelarnya kegiatan masyarakat. Masyarakat harus bekerja, beribadah serta belajar dari rumah.

Rencananya, Gubernur akan bertemu dengan para pemerintah daerah di wilayah Jakarta Pusat untuk membicarakan tentang kebijakan PSBB ini lebih lanjut. Tentu harapannya adalah kebijakan PSBB ini dapat menekan angka penyebaran Covid-19 yang tinggi ini. 

Kebijakan Dipicu Tingginya Angka Kasus Harian

Ilustrasi Tes Swab Covid-19. Photo by @unitednations on Unsplash
Ilustrasi Tes Swab Covid-19. Photo by @unitednations on Unsplash

Keputusan Jakarta ulang PSBB total ini muncul setelah tingginya angka kasus harian dan kematian karena Covid-19. Selain itu, semakin menipisnya ketersediaan tempat tidur di tempat perawatan pasien Covid-19 mendorong perlu diambilnya langkah untuk menekan penyebaran virus.

Hingga hari Rabu lalu, otoritas kesehatan telah menyebutkan sebanyak 1.347 kematian akibat Covid-19. Sebanyak 77 persen tempat tidur isolasi dari yang telah disediakan sebanyak 4.053 untuk pasien Covid-19 telah terisi. Jika tidak dilakukan pengereman darurat, dikhawatirkan kota Jakarta akan kehabisan tempat tidur isolasi.

Indonesia Mulai Uji Coba Terapi Plasma Darah Berskala Besar

Obat Covid-19 dari Singapura
Ilustrasi obat untuk Covid-19. Photo by Kendal on Unsplash

Sementara itu, lembaga Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan telah memulai uji coba klinis terapi plasma darah berskala besar pada pasien Covid-19. Beberapa Rumah Sakit termasuk Rumah Sakit Umum Fatmawati di Jakarta Selatan; Hasan Sadikin di Bandung,; Dr Ramelan di Surabaya; rumah sakit daerah Sidoarjo telah memulai uji coba tersebut pada Selasa, 8 Agustus lalu. 20 rumah sakit akan segera menyusul melaksanakan uji coba ini.

Pihak Litbangkes membuka kesempatan bagi setiap rumah sakit yang juga tertarik melakukan uji coba. Pihak rumah sakit bisa menghubungi litbangkes segera agar bisa dimasukkan dalam daftar. 

Sebanyak 364 pasien Covid-19 direkrut dalam uji klinis ini dan diharapkan akan selesai dalam waktu tiga bulan. Plasma kovalen diketahui menunjukkan hasil yang efektif pada penelitian kecil tentang perawatan terhadap penyakit menular tertentu seperti Ebola dan Sars. Meski demikian plasma kovalen hanya dapat diberikan kepada pasien Covid-19 dalam situasi darurat atau untuk tujuan penelitian. 

Penelitian Masih Berjalan, Namun Menunjukkan Hasil Baik

Ilustrasi uji coba obat di laboratorium. Photo by ThisisEngineering RAEng on Unsplash
Ilustrasi uji coba obat di laboratorium. Photo by ThisisEngineering RAEng on Unsplash

Hingga saat ini, penelitian masih terus berlangsung, namun beberapa hasil awal menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Uji coba acak terkendali masih harus dilakukan untuk membuktikan keefektifan perawatan ini. 

Hingga saat ini, fokus utama penelitian adalah keamanan dan keefektifan terapi. Karena itulah pihak Litbangkes mendukung setiap upaya dokter untuk melakukan terapi kovalen pada pasien Covid-19. Terapi ini, diberikan kepada pasien Covid-19 yang menunjukkan gejala sedang hingga berat dengan pneumonia dan hipoksia. 

Karena ini merupakan terapi perawatan dan masih belum diuji klinis secara global dan tidak memiliki protokol, maka terapi kovalen tidak akan diberikan dengan tujuan untuk pencegahan. Terapi ini hanya digunakan untuk tujuan perawatan pasien. 

Subjek penelitian harus berusia 18 tahun ke atas dan menunjukkan gejala Covid-19 sedang hingga berat. Subjek akan disuntik 200ml plasma darah dua kali sehari selama tiga hari dan kondisinya akan dimonitor dengan ketat selama 28 hari.

Penelitian dilakukan oleh Litbangkes bekerja sama dengan Eijkman Institute, Kemenristek, Badan Riset dan Inovasi Nasional (Brin), Palang Merah Indonesia (PMI), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan beberapa rumah sakit di Indonesia.

Itulah berita singkat dan penjelasan tentang Jakarta ulang PSBB total, serta alasan di balik diambilnya keputusan ini. Sebagai warga negara yang baik, hendaknya #SGB_Family bisa bekerja sama. Demi pandemi segera bisa dikendalikan dan kembali beraktifitas dengan aman dan nyaman. Setuju, kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×
Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial
×