fbpx

6 Culture Shock di Singapura, Booking Meja Pakai Tisu

  • September 4, 2020
  • Dibaca 4 kali
Ilustrasi gedung kantor MICA Singapura. Photo by Siti rahmanah Mat Daud on Unsplash

Berada di negara lain baik untuk liburan atau dalam waktu cukup lama, #SGB_Family bakal merasakan culture shock. Walaupun termasuk negara tetangga, tapi ada perbedaan mencolok antara kebiasaan orang Indonesia dengan Singapura. Seperti pengalaman Megan yang mengalami culture shock di Singapura. Megan menyampaikan pengalamannya melalui YouTube channel SGB. Yuk, simak!

SGB Merchandise

Ilustrasi satu bungkus tisu di atas meja. Photo by Christine Sandu on Unsplash
Ilustrasi satu bungkus tisu di atas meja. Photo by Christine Sandu on Unsplash

Hawker centre atau food court di Singapura hampir jarang sepi. Orang-orang sampai punya kebiasaan unik untuk booking meja yaitu pakai satu bungkus tisu atau payung. Setelah ‘reservasi’, mereka membeli makanan di stall yang dipilih. Istilah Singlish kebiasaan unik ini disebut ‘chope’ yang berasal dari kata Bahasa Inggris ‘choping’ atau ‘chop’. Choping jadi kesepakatan nggak tertulis dan dipatuhi oleh orang Singapura.


Culture shock tersebut dialami oleh Megan yang belum mengetahui kebiasaan unik itu. Berada di food court yang penuh, dia melihat satu meja kosong tapi ada tisu. Mengira meja itu tak berpenghuni dan mungkin orang sebelumnya nggak sengaja meninggalkan tisu, Megan duduk dan makan. Beberapa saat kemudian, ada orang Singapura mengambil tisu yang dipinggirkan sembari memberi tatapan sebal ke arah Megan.

Masih terkait hawker centre atau food court, rupanya satu meja berisi beberapa kursi nggak harus ditempati oleh satu keluarga atau orang yang saling kenal seperti di Indonesia. Orang Singapura biasa makan bersama orang asing dalam satu meja. Nggak tahu akan hal ini, selama beberapa waktu Megan harus take away tiap kali berada di hawker centre.

Ilustrasi orang Singapura dari beragam latar belakang budaya. Photo by Carson Arias on Unsplash
Ilustrasi orang Singapura dari beragam latar belakang budaya. Photo by Carson Arias on Unsplash

Bahasa Singlish pertama kali muncul pada 1965 setelah kemerdekaan Singapura. Biasanya digunakan pada kesempatan informal, sedangkan pada forum formal dan pendidikan biasanya pakai Bahasa Inggris. Singlish ini ibaratnya seperti rojak yang isinya macam-macam, karena di dalamnya mengandung Bahasa Inggris, Melayu, Tamil, dan China dialek Hokkien atau Kanton. Kebiasaan berbahasa orang Singapura lainnya adalah cara berbicara cukup cepat.

Megan sendiri membutuhkan waktu lebih kurang 6 bulan untuk terbiasa dengan Singlish dan cara berbicara orang Singapura. Sebelumnya kalau ada teman berbicara pakai Singlish, Megan meminta mereka mengulang cerita setidaknya 2 kali. Menurutnya, sekalipun orang Singapura berbicara Bahasa Inggris tetap ada akses Singlish yang butuh proses untuk dimengerti.

Culture Shock di Singapura
Ilustrasi suasana kereta saat rush hour. Photo by Chang Hsien on Unsplash

Rush hour atau jam sibuk di Singapura pada pukul 7am-9am dan 6.30pm-8.30pm. Jam sibuk pagi hari adalah ketika pekerja berangkat ke kantor, sedangkan sore saat mereka pulang ke rumah. Salah satu pertanda rush hour terlihat dari MRT yang bakal penuh sesak.

Megan pun mengalami culture shock satu ini. Dia dan teman akan makan malam, berangkat sekitar pukul 6.45pm. Sampai di stasiun MRT, antrian orang begitu banyak. Kereta yang tiba pun penuh. Dia pun menunggu sampai 2 kereta berikutnya baru bisa naik. Itu pun kereta hampir penuh. Dia menyarankan untuk nggak pergi ke MRT waktu rush hour kecuali #SGB_Family nggak keberatan dengan kondisi sesak di sana.

Culture Shock di Singapura
Ilustrasi orang sedang berdiri di eskalator. Photo by Caesar Aldhela on Unsplash

Berdiri di eskalator pun ada aturannya tersendiri terutama eskalator MRT station. #SGB_Family harus berdiri sebelah kiri karena sisi kanan diperuntukkan orang-orang yang buru-buru. Kalau berdiri dan diam aja di sebelah kanan, siap-siap ditegur oleh orang lain, ya. Aturan ini berlaku saat rush hour maupun waktu biasa.

Ilustrasi orang sedang naik bus. Photo by Chamal Prasanna on Unsplash
Ilustrasi orang sedang naik bus. Photo by Chamal Prasanna on Unsplash

Tingkat keamanan tinggi dan sistem transportasi umum yang baik, bikin #SGB_Family bebas mau jalan-jalan di Singapura kapan aja dan ke mana pun. Sampai ke pelosok pun bakal ada MRT atau bus yang mencapai. Nggak perlu khawatir juga misalnya pulang kemalaman, karena Singapura aman. Tingkat kejadian kriminal di sini sangat rendah.

Ilustrasi gedung kantor MICA Singapura. Photo by Siti rahmanah Mat Daud on Unsplash
Ilustrasi gedung kantor MICA Singapura. Photo by Siti rahmanah Mat Daud on Unsplash

Sistem pendidikan Singapura dengan Indonesia cukup berbeda. Dilihat dari jenjang pendidikan, Singapura punya O Level, N Level, A Level, junior college, politeknik, dan universitas. Sementara di Indonesia ada SD, SMP, SMA, kuliah (universitas) dan D3.

Nilai turun saat pertama adaptasi dengan sistem pendidikan Singapura dialami Megan. Biasanya di Indonesia dapat A, tapi B dan C jadi langganan di Singapura. Namun, lambat laun nilai mulai naik setelah terbiasa dengan sistem pendidikan di sini. Tak lupa untuk rajin belajar dan terus beradaptasi.

Seperti itulah 6 culture shock yang mungkin bakal dialami #SGB_Family di Singapura. Sebelum ke sini, ada baiknya mempelajari kebiasaan dan aturan supaya nggak salah langkah, ya. Kebiasaan mana yang bikin kaget banget?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×
Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial
×