fbpx

Satu Vaksin Covid-19 Belum Bisa Menyembuhkan, Baca Detailnya!

  • September 1, 2020
  • Dibaca 161 kali

Negara-negara di dunia sedang berusaha menemukan obat Covid-19. Seperti yang diketahui, pandemi ini membuat perekonomian banyak negara berantakan. Namun, ternyata ada masalah baru yang mungkin muncul. Kabarnya, satu dosis dari vaksin Covid-19 ternyata belum cukup untuk menyembuhkan. Baca terus untuk tahu keterangan lengkapnya, ya.

Kasus Covid-19 (Photo by Brian McGowan on Unsplash)

Dilansir dari edition.cnn.com, disampaikan bahwa kemungkinan satu dosis vaksin Covid-19 tidak cukup. Namun, ini bukan menjadi masalah satu-satunya. Beberapa masalah potensial yang bersifat logistik juga bisa terjadi. Di antaranya adalah kesulitan mendapatkan alat uji dan alat pelindung di seluruh titik pendemi.

Kendala lainnya adalah masalah rantai pasokan yang juga dapat menganggu pendistribusian vaksin dosis ganda untuk seluruh negara. Kekhawatiran potensial lainnya lebih bersifat manusiawi, seperti bagaimana meyakinkan orang agar datang untuk mendapatkan vaksin Covid-19 tidak hanya sekali, namun dua kali.

Seorang profesor kesegatan di Vanderbilt University menyatakan, “Tidak diragukan lagi bahwa ini akan menjadi program vaksinasi terbesar dan paling rumit dalam sejarah manusia, dan itu akan membutuhkan upaya, tingkat kecanggihan, yang belum pernah kami coba sebelumnya,”.

Obat Covid-19 dari Singapura
Ilustrasi Vaksin Covid-19. Photo by Kendal on Unsplash

Sejauh ini, Operation Warp Speed, yaitu upaya pemerintahan federal untuk mendapatkan vaksin Covid-19 di pasar telah memberikan uang kepada enam buah perusahaan farmasi. Dua dari perusahaan tersebut, Moderna dan Pfizer, sekarang berada di dalam Tahap 3, yaitu uji klinis skala besar.

Sebanyak 30.000 sukarelawan di setiap uji coba mendapatkan dua dosis. Modena memberikan jeda waktu selama 28 hari. Sedangkan, Pfizer memberikan jeda waktu selama 21 hari.

Perusahaan Farmasi AstraZeneca diharapkan bisa memulai uji coba Tahap 3 di bulan ini juga. Perusahaan ini menjalankan percobaan Tahap 1 dan 2 dengan menggunakan dua dosis yang diberikan dengan jarak 28 haru.

Sedangkan, Novavax juga dalam proses menuju uji Tahap 3, tetapi sudah menggunakan dua dosis vaksin Covid-19 pada uji coba sebelumnya. Sedikit berbeda, dalam uji coba Tahap 3 Johnson & Johnson yang akan datang, beberapa peserta akan mengambil satu dosis, peserta lainnya mendapat dua dosis. Sanofi belum mengumumkan apakah vaksin Covid-19 mereka akan diberikan dalam satu atau dua dosis.

Ilustrasi Covid-19 (Photo by Prasesh Shiwakoti (Lomash) on Unsplash)

Sebenarnya tidak mengherankan jika vaksin Covid-19 akan membutuhkan dua dosis. Seperti yang diketahui, banyak vaksin, bahkan termasuk vaksin anak-anak untuk cacar ari dan Hepatitis A dan vaksin dewasa untuk herpes zozter juga memerlukan dua dosis.

Bahkan, beberapa membutuhkan lebih dari dua. Sebagai contoh, anak-anak mendapatkan lima dosis vaksin DTaP yang melindungi mereka dari difteri, tetanus, dan pertusis.

Contoh lainnya, pada musim semi 2009, program vaksin mengharuskan mengvaksin 161 juta orang Amerika dalam beberapa bulan karena jenis flu baru muncul. Hal ini menunjukkan bahwa program vaksin Covid-19 ini mungkin memang sulit, namun bukannya tidak mungkin untuk dilakukan.

Perbedaan rapid test dengan pcr test
Ilustrasi alat rapid test. Photo by Medakit Ltd on Unsplash

Untuk awalan, membuat 660 juta dosis untuk 330 juta orang Amerika adalah prestasi yang sulit. Seorang profesor manajemen rantai pasokan di Universitas Northeastern menyatakan, “Kami melihat bidikan ganda. Itu dua kali lipat jumlahnya. Penggandaan adalah masalah rantai pasokan yang besar. Ini tidak hanya memproduksi vaksin itu sendiri.
Anda harus menggandakan semuanya dalam rantai pasokan,”

Semuanya harus digandakan. Di antaranya adalah jarum suntuk, botol, dan lainnya. Serta, semua orang harus mendapatkannya tepat waktu di berbagai tempat sepanjang persediaan.

Ilustrasi obat (Unsplash)

Permasalahan lainnya adalah sepertinya akan sulit membuat mayoritas orang Amerika datang hanya sekali untuk mendapatkan vaksin Covid-19, apalagi jika harus datang dua kali. Menurut survey CNN yang dilakukan bulan ini, sekitar 40% warga Amerikan menyatakan mereka tidak akan mendapatkan vaksin, meskipun gratis dan mudah didapat.

Bahkan bagi mereka yang menginginkan vaksin, hal ini tetap sedikit merepotkan. Orang-orang harus ingat untuk datang dua kali, harus mengambil cuti dua kali. Mereka mungkin harus menunggu dalam antrean panjang, juga dua kali. Belum lagi tentang efek samping yang mungkin ada, seperti demam. Mereka juga harus merasakannya dua kali.

Meski harus butuh dua dosis vaksin Covid-19, rasanya sedikit merepotkan juga nggak masalah, ya. Kesehatan adalah yang utama agar #SGB_Family bisa kembali beraktifitas dan liburan dengan aman, juga nyaman. Setuju, kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×
Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial