fbpx

Mau Bepergian? Baca Potensi Penyebaran Virus Dalam Pesawat Dulu

  • August 24, 2020
  • Dibaca 303 kali

Pandemi yang tengah dihadapi oleh seluruh dunia saat ini telah mengubah banyak kebiasaan hidup masyarakat. Setiap orang harus selalu waspada saat berkegiatan demi mencegah penyebaran virus ini lebih lanjut. Jika harus bepergian, hendaknya bisa lebih waspada. Untuk itu, cek potemsi penyebaran virus dalam pesawat di bawah ini agar urusan selesai dan tetap aman. Siap, ya?

Masker adalah wajib (unsplash)

Berbagai penelitian dan upaya pembuatan obat Covid-19 terus dilakukan hingga saat ini demi mengakhiri pandemi. Dilansir dari thejakartapost.com, sebuah peneletian pendek diterbitkan di jurnal medis Amerika Serikat, JAMA Network Open yang menyimpulkan sebuah hasil yang cukup meyakinkan tentang potensi penyebaran virus corona di dalam pesawat.

Namun, yang perlu diperhatikan adalah di manapun berada, tetap wajib melakukan protokol standard keamanan. Seperti sering mencuci tangan, selalu menggunakan masker, dan menjaga jarak aman dengan orang lain. 

Tips Terbang Jarak Jauh
Perjalanan dengan pesawat (Photo by lutfi gaos on Unsplash)

Penelitian ini dilakukan kepada para penumpang pesawat penerbangan Tel Aviv-Frankfurt pada 9 Maret 2020. Pada saat itu, peraturan untuk selalu menggunakan masker belum diterapkan secara meluas di berbagai tempat di dunia. Saat itu, Sebanyak 102 penumpang naik penerbangan selama 4 jam 40 menit dari Tel Aviv ke Frankrut termasuk diantaranya 24 turis Jerman. 

Pihak berwenang Jerman mendapat informasi bahwa kelompok turis tersebut ternyata telah melakukan kontak dengan manajer hotel di Israel yang terinfeksi. Hal inilah yang mendorong dilakukan pengujian kepada 24 turis tersebut setibanya di Frankfurt.

Diketahui bahwa tidak ada penumpang yang mengenakan masker saat itu. Maka dilakukanlah penelitian singkat dengan menghubungi semua penumpang untuk memeriksa risiko yang ditimbulkan ketika ada penumpang yang terinfeksi COVID-19 dalam pesawat penuh.

Ilustrasi Tes Swab Covid-19. Photo by @unitednations on Unsplash
Ilustrasi Tes Swab Covid-19. Photo by @unitednations on Unsplash

Hasil tes menunjukkan bahwa awalnya tujuh orang dinyatakan positif, begitu pula tujuh orang lainnya kemudian. Empat hingga lima minggu kemudian, 78 penumpang lain dihubungi dan 90 persen dari mereka merespon peneliti. Mereka ditanya telah melakukan kontak dengan siapa saja, gejala apa yang dimiliki, serta dilakukan pengujian kepada beberapa diantaranya.

Dari penelitian tersebut, hanya ditemukan dua penumpang yang kemungkinan besar terinfeksi selama penerbangan dan kedua orang ini duduk di sisi seberang dari tujuh orang kasus awal. Para ahli menyebutkan bahwa zona penularan pada pesawat terbang untuk virus pernapasan adalah hingga dua baris ke depan dan ke belakang dari orang yang terinfeksi.

Namun ternyata dalam kasus penerbangan Tel Aviv – Frankfurt, penumpang yang duduk tepat di depan dua turis yang terinfeksi malah tidak terinfeksi virus tersebut meskipun ia melakukan percakapan panjang dengan kedua penumpang tersebut. Dua penumpang yang duduk tepat di belakang turis lainnya juga tidak tertular COVID-19 selama penerbangan. 

Ilustrasi tidur di pesawat. Photo by Annie Theby on Unsplash
Potensi penyebaran virus dalam pesawat (Photo by Annie Theby on Unsplash)

Tidak semua penumpang diuji dalam penelitian ini, sehingga masih terdapat kemungkinan bahwa ada beberapa penumpang lain yang juga terinfeksi. Penelitian tersebut juga menekankan bahwa penularan virus di dalam pesawat masih dapat terjadi jika penumpang tidak memakai masker.

Selain itu, para peneliti juga menyebutkan bahwa telah dilakukan beberapa penelitian tentang penerbangan repratiasi dari Wuhan, China pada awal pandemi. Diketahui bahwa tidak ada transmisi yang terjadi di dalam pesawat ketika para penumpang menggunakan masker. Meski rendah, potensi penyebaran virus dalam pesawat masih mungkin terjadi. Tetap taat pada aturan, ya.

Bepergian saat Covid-19 (unsplash)

Berbagai negara telah memberlakukan berbagai pembatasan pergerakan demi mencegah penyebaran virus Covid-19. Kini perlahan beberapa negara telah mulai membuka lagi pintu untuk perjalanan antar negara, namun dengan beberapa peraturan protokol kesehatan baru yang tidak boleh dilanggar, salah satunya adalah mengenakan masker.

Berbagai penerbangan memberlakukan peraturan ini dengan tegas. Bahkan, beberapa maskapai menindak tegas penumpang yang tidak mengenakan masker dengan melarang penumpang tersebut ikut terbang dengan maskapai tersebut di masa depan. Tidak berhenti di situ, beberapa waktu lalu maskapai Delta Airlines dengan tujuan Atlanta memutuskan putar balik ke Detroit karena ada dua penumpang yang menolak terbang menggunakan masker.

Selain mewajibkan penggunaan masker dan face shield, maskapai melakukan penyemprotan desinfektan secara rutin pada setiap pesawatnya. Selain itu, interaksi fisik semakin dikurangi saat berada di dalam pesawat. 

Face Shield (unsplash)

Untuk mengurangi potensi penyebaran virus dalam pesawat lebih lanjut, makanan di dalam pesawat sekarang juga menggunakan pembungkus makanan sekali pakai. Selain itu, air mineral botol agar tidak terjadi transmisi langsung karena bersentuhan dengan objek atau permukaan yang terkontaminasi. Tidak berhenti di situ saja, rapid test juga diminta sebagai salah satu syarat penerbangan.

Itulah hal-hal yang perlu #SGB_Family ketahui tentang potensi penyebaran virus dalam pesawat. Hal ini untuk meminimalisir risiko saat #SGB_Family harus bepergian karena urusan pekerjaan atau keluarga. Jika tak ada kepentingan, stay di rumah saja, ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×
Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial