fbpx

Gelang Pelacak Wisatawan Singapura, Cek Juga Aplikasi untuk Covid-19

  • August 19, 2020
  • Dibaca 302 kali

Menghadapi pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir ini, Singapura mengeluarkan peraturan baru untuk wisatawan yang berkunjung. Para wisatawan akan diminta untuk memakai perangkat gelang pelacak wisatawan Singapura sebagai bentuk pemantauan apakah mereka mematuhi protokol kesehetan selama berkunjung. Ada juga tracker lainnya yang bisa digunakan. Apa saja?

SGB Merchandise

Wristband and gateway device for ICA’s electronic monitoring of travellers serving stay-home notices. (Photo: Gwyneth Teo)

Sebelumnya, Singapura mengharuskan wisatawan yang berkunjung untuk dikarantina di fasilitas milik negara terlebih dahulu. Namun kini, gelang pelacak wisatawan Singapura, termasuk untuk warga negara Singapura serta mereka diizinkan untuk mengisolasi diri di rumah bisa menggantikan itu.

Pengunjung yang masuk ke Singapura diharuskan mengaktifkan gelang yang menggunakan sinyal GPS dan Bluetooth tersebut. Gelang ini berfungsi memberikan pemberitahuan jika si pemakai melanggar protokol kesehatan dengan merusak gelang pelacak wisatawan ataupun berusaha meninggalkan rumah.

Dengan cara ini, pelacakan terhadap para pengunjung jadi lebih mudah dilakukan misalkan salah satu pengunjung kedapatan positif COVID-19.

Rencananya, setiap penduduk juga diharuskan memakai gelang pelacak wisatawan tersebut. Bahkan hukuman serius akan menanti jika ketahukan melanggar aturan karantina dan social distancing. 

Bukan main-main, hukumannya antara lain berupa denda sebesar 10 ribu dolar Singapora atau setara dengan 106 juta rupiah atau kurungan selama 6 bulan. Tidak berhenti sampai di situ saja, orang asing yang kedapatan melanggar aturan juga berisiko terkena hukuman berupa pencabutan izin kerja. 

Pemakaian gelang ini sempat membuat khawatir penduduk setempat soal keamanan privasi dan data pribadi mereka. Meski demikian, disebutkan bahwa gelang tersebut tidak akan menyimpan data pribadi apapun ataupun merekam suara maupun video dari penggunanya. 

Ilustrasi Tes Swab Covid-19. Photo by @unitednations on Unsplash
Ilustrasi Tes Swab Covid-19. Photo by @unitednations on Unsplash

Pemakaian gelang pelacak wisatawan Singapura ini dimulai pada 11 Agustus lalu. Namun, kebijakan ini hanya berlaku untuk wisatawan yang berusia di atas 12 tahun. Setelah gelang elektronik terpasang, para wisatawan akan diminta untuk mengaktifkan gelang tersebut di tempat tinggal sementara mereka. 

Korea Selatan (unsplash)

Dilansir dari airport-technology.com, disampaikan bahwa gelang pelacak wisatawan ini bisa menjadi persyaratan pasca-perjalanan yang baru. Sedang, karantina bisa saja menjadi aspek lain dari new normal yang mungkin harus diterima turis.

Negara lain yang juga memperkenalkan prosedur gelang pelacak wisatawan ini adalah Hong Kong dan Korea Selatan. Di Hong Kong, pihak berwenang memulai gelang elektronik tipis untuk memberlakukan karantina pada kedatangan.

Bahkan Korea Selatan menghubungkan gelang tersebut ke smartphone. Jika wisatawan ketahuan melanggar kebijakan isolasi diri, maka hukuman berupa deportasi menanti. Kebijakan ini mulai muncul setelah diketahui banyak orang yang melanggar perintah karantina setelah masuk ke negara tersebut.

Padahal, melanggar perintah karantina berisiko menularkan virus mematikan tersebut kepada orang lain. Karena sulitnya mengawasi pendatang agar mematuhi protokol kesehatan tersebut, maka munculah inovasi pelacakan tersebut.

Gelang ini tidak hanya membantu mengetahui di mana lokasi si pemakai, namun memungkinkan contact tracing agar bisa mengetahui orang-orang yang secara tidak disadari bersinggungan atau berinteraksi dengan pasien positif Covif-19.

Aplikasi Covid-19 (think.ing.com)

Gelang pelacak merupakan salah satu cara. Alat lain yang digunakan untuk melacak gerak wisawatan adalah aplikasi pada smartphone. Dilansir dari think.ing.com, negara-negara Eropa terus meluncurkan aplikasi pelacakan Covid-19. Jika digunakan secara efektif, mereka dapat memperlambat penyebaran virus.

Pertanyaanya adalah apakah kita siap membagikan data kita untuk kepentingan kesehatan masyarakat? Seberapa khawatirnya kita tentang privasi? Apakah #SGB_Family bersedia memasang aplikasi pelacakan Covid-19?

Faktanya, sekitar 53% dari pengguna smartphone di Jerman dengan usia di atas 16 tahun melakukannya, sekitar 28 juta orang. Kini, sudah delapan minggu setelah peluncuran Corona-Warn-App, ada 16 juta orang Jerman yang mengunduhnya.

Aplikasi Covid-19 (think.ing.com)

Data apa yang sebenarnya dibagikan? Sebagian besar aplikasi pelacak Covid-19 yang sedang dikembangkan di Eropa menggunakan Bluetooth untuk melacak orang yang telah melakukan kontak tertutup dengan orang yang terinfeksi.

Banyak dari aplikasi Bluetooth ini dibangun ke dalam sistem gabungan dari Google dan Apple yang memungkinkan sinyal Android dan iOs berkomunkasi satu satu lain. Jika aplikasi digunakan secara aktif oleh cukup banyak orang, ini dapat mengurangi jumlah penyebaran Covid-19 dari tiga menjadi satu. Cukup menjanjikan, bukan?

Itulah sepintas tentang gelang pelacak wisatawan Singapura dan yang digunakan negara lain. Pemerintah berusaha menekan penyebaran dengan cara apapun, sebagai warga yang baik hendaknya kita bisa bekerja sama agar pandemi ini segara berlalu. Setuju, kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×
Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial