fbpx

4 Fakta Aturan Pejalan Kaki di Singapura, Nggak Boleh Main Hape

  • August 15, 2020
  • Dibaca 6 kali
Aturan Pejalan Kaki di Singapura

Aturan pejalan kaki (pedestrian) akan diterapkan di Singapura. Sebelumnya, kode etik pengguna jalur publik fokus kepada pengguna sepeda dan skuter elektronik. Aturan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan membangun budaya ramah sesama pengguna jalan/ jalur publik. Tenang aja, kode etik ini bukan mau mengatur cara orang berjalan. Yuk simak dulu fakta aturan pejalan kaki di Singapura berikut.

SGB Merchandise

Ilustrasi Pejalan Kaki dan Pesepeda. Photo by Aldiyar Seitkassymov from Pexels
Ilustrasi Pejalan Kaki dan Pesepeda. Photo by Aldiyar Seitkassymov from Pexels

Aturan kode etik untuk pejalan kaki ini diputuskan setelah Kementerian Perhubungan Singapura mempertimbangkan rekomendasi Active Mobility Advisory Panel (AMAP). Tujuan adanya aturan pejalan kaki di Singapura bukan untuk mengawasi cara orang berjalan tapi lebih kepada norma tentang perilaku yang aman, misalnya cara menyeberang dengan aman. Jadi lebih fokus pada tips keselamatan dalam berjalan.


Salah satu aturan pedestrian adalah pejalan kaki sebaiknya tetap berjalan di jalur sebelah kiri. Hal itu merupakan praktik umum seperti yang diterapkan oleh pengguna eskalator. Menurut Senior Parliamentary Secretary for Transport Baey Yam Keng, setiap orang berperan saling menjaga agar tetap aman di ruang bersama, termasuk jalur publik. Saat ini, jalur pengendara sepeda dan pejalan kaki di Singapura menjadi satu, karena tidak ada cukup ruang untuk membuat jalur yang berbeda.

Aturan Pejalan Kaki di Singapura
Ilustrasi Orang Menyeberang. Photo by Lily Banse on Unsplash

Aturan pejalan kaki di Singapura di antaranya sebagai berikut:

  • Pejalan kaki harus menghindari jalur bersama. Kalaupun jalan di jalur bersama, pejalan kaki harus tetap waspada dan memperhatikan sekitar.
  • Tetap di jalan setapak dan berada di sebelah kiri kecuali mau menyalip pejalan kaki lainnya. Tidak boleh menggunakan handphone saat berjalan di jalur tersebut, baik untuk komunikasi maupun fungsi lain seperti mendengarkan musik. Aturan ini demi menjaga keselamatan diri sendiri dan pengguna jalur publik lainnya.

Kode etik untuk pejalan kaki tersebut mulai berlaku bulan ini, bersamaan dengan aturan baru tentang penggunaan skuter elektronik. Orang berusia di bawah 16 tahun tidak boleh mengendarai skuter elektronik tanpa pengawasan orang dewasa. Selain itu, pengguna skuter dilarang menggunakan handphone saat berkendara.

Aturan Pejalan Kaki di Singapura
Ilustrasi Pejalan Kaki Menggunakan HP. Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

Aturan baru untuk para pejalan kaki di Singapura ini diusulkan dan diajukan karena meningkatnya jumlah kebakaran dan kecelakaan yang melibatkan skuter tahun lalu. Tapi, seiring adanya larangan penggunaan skuter dan sepeda di jalur pejalan kaki dan pencegahan lainnya, masalah seperti kebakaran atau kecelakaan sudah mulai berkurang.

Apalagi, menurut Baey Yam Keng dilansir dari asiaone.com, banyak terlihat para pejalan kaki, pengguna skuter, dan pengguna sepeda yang sibuk menggunakan HP mereka. Karena itulah, mereka nggak begitu sadar dan perhatian dengan sekeliling mereka.

Pengguna skuter atau sepeda juga ada yang menggunakan kendaraannya di bagian pejalan kaki padahal sudah tersedia jalur khusus untuk mereka. Ada juga yang memilih untuk nggak turun dari sepeda atau nggak menurunkan kecepatan bersepeda mereka saat berada di tempat ramai. Padahal hal itu bisa membahayakan.

Ilustrasi Menggunakan E-Scooter. Instagram @___karin.jp
Ilustrasi Menggunakan E-Scooter. Instagram @___karin.jp

Melansir straitstimes.com, aturan pejalan kaki yang baru di Singapura ini menimbulkan pro dan kontra, baik dari pejalan kaki maupun ahli. Ada pejalan kaki yang mengatakan bahwa kode etik tersebut dapat mempermudah hak mereka di jalan setapak. Tapi beberapa pejalan kaki lain menganggap bahwa tanggung jawab penggunaan jalur berada di tangan pengendara sepeda maupun kendaraan pribadi lain seperti pengguna skuter elektronik.

Sementara itu menurut pakar infrastruktur transportasi dari National University of Singapore Raymond Ong mengatakan aturan pejalan kaki ini layak diterapkan demi keselamatan dan infrastruktur. Pasalnya, Singapura tak punya ruang fisik yang cukup untuk memisahkan jalur pejalan kaki dengan pesepeda. Berdasarkan Raymond Ong, aturan ini fokus pada pembentukan perilaku dan mencoba membuat lingkungan lebih kondusif pejalan kaki dan pesepeda.

Menurut Raymond Ong, pejalan kaki yang fokus akan bisa lebih menghindar kalau ada kejadian yang melibatkan gangguan mengemudi dan berkendara. Aturan pejalan kaki ini juga penting untuk mengedukasi publik.


Sementara itu, Francis Chu selaku salah satu pendiri grup pesepeda Love Cycling SG yang sebelumnya juga bagian dari AMAP menyampaikan bahwa aturan pejalan kaki itu tidak diperlukan. Dia memberi contoh kasus pada aturan pejalan kaki harus berada di jalur sebelah kiri. Misalnya ada kecelakaan, pengguna perangkat (sepeda atau skuter elektronik) bisa saja menyalahkan pejalan kaki karena tidak berada di jalur sebelah kiri.

Selain itu, beberapa pejalan kaki tertentu seperti orang tua dan anak-anak, tidak selalu bisa tetap di sebelah kiri maupun waspada setiap waktu. Tanggung jawab harusnya ada pada pengendara sepeda dan skuter elektronik.

Mereka harusnya memastikan perangkat tetap terkendali dan memastikan keselamatan pejalan kaki. Berdasarkan pendapat Francis Chu, kedua aturan tersebut seharusnya cukup kalau tujuannya keamanan bagi semua pengguna jalur.

Nah, sekarang #SGB_Family udah tahu tentang adanya aturan pejalan kaki terbaru di Singapura. Sebaiknya memang tetap hati-hati dan waspada saat berada di jalan, termasuk ketika jalan kaki. Bagaimana menurut #SGB_Family tentang aturan itu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×
Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial
×